Kutipan Favorit :
"Aku memperlakukan setiap menit yang kuhabiskan bersama keluarga dan teman-teman bagaikan waktu-waktu yang sangat berharga. Aku memperhatikan wajah dan suara mereka dengan cermat, supaya tidak melupakan semua itu. Aku tahu aku takkan pernah melihat mereka lagi dan hal itu membuat hatiku pedih, tapi hal ini memang harus terjadi. Tidak ada jalan kembali." -Darren Shan-

Cirque Du Freak-Buku pertama Darren Shan Saga oleh Darren Shan

Monday, 31 March 2014

Review : Amelia by Tere Liye

https://www.goodreads.com/book/show/18753304-amelia?ac=1
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Republika
Tebal : 390 Halaman
Terbit : November 2013
Genre : Anak
Status : Pinjam

Amelia, si bungsu, anak yang paling kuat.  










Sinopsis

Selamat datang di dunia Anak-Anak Mamak. Dunia yang tidak pernah kalian bayangkan sebelumnya. Di mana rasa ingin tahu dan proses belaja menyatu dengan kepolosan, kenakalan, hingga isengnya dunia anak-anak.

Siapa tidak tahu si sulung Eliana?! Di sekolah, di kampung, di Kota Kecamatan, bahkan Pejabat Kota Kabupaten, semua mengenal Eli si Pemberani. Maka, jangan pernah coba coba membuatnya marah.

Anak Mamak nomor dua adalah Pukat si Jenius. Kelak semua orang akan tahu betapa pintarnya Pukat; calon profesor, penemu hebat, demikian Pak Bin--guru sekolahnya--membanggakannya.

Yang ketiga adalah anak paling jahil sedunia, Burlian. Ia Anak Spesial. Tak ada seorangpun yang menandingi keteguhan hatinya.

Amelia, si bungsu yang paling disayang. Ia sebal jika diledek hanya akan menjadi Penunggu Rumah. Kelak, ia tahu sejauh apa pun ia pergi, takdir akan membawanya kembali.
Bapak dan Mamak mereka sungguh telah mewariskan sifat sifat baik pada keempatnya. Di tengah kesederhanaan dan keterbatasan, tersemat kasih sayang keluarga dan pengorbanan. Sebuah pemahananbaik atas kehdiupan yang terus melekat hingga mereka tumbuh dewasa.


Footnote

Amelia tinggal di desa yang subur tanahnya. Ladang kopi di mana-mana. Kebanyakan bertani, sisanya mencari ikan dan membuat kerajinan. Ia dan yang lain tinggal dengan keserhanaan. Tidak menggunakan listrik dan segalanya masih menggunakan apa yang ada. Seperti setrika arang misalnya.

Tapi Amel dan yang lain tidak pernah berhenti berjuang untuk mewujudkan desa yang maju. Berusaha membuat agar keadaan mereka berubah. Tidak lagi terkurung dalam keterbatasan.

Amel mempelajari banyak hal diusianya yang masih muda. Memetik jamur, pergi ke hutan, bahkan melihat binatang buas. Dan tentu saja Amel pergi ke sekolah meski banyak teman sebayanya tidak pergi ke sekolah karena membantu orang tua mereka bekerja.

Amel yang memiliki kesempatan untuk sekolah tidak berarti ia hidup dalam kemewahan. Ia membantu orang tuanya bekerja di rumah. Membereskan barang-barang, membantu mamak memasak, memindahkan kayu, membersihkan lantai, membangunkan Burlian dan Pukat, dan masih banyak lagi.

Namun Amel hanyalah anak anak. Yang terkadang ngeyel namun senang membaca. Terkadang dimarahi oleh Eli dan mendapat hukuman dari bapak.

Tapi Amel lebih dewasa dari teman teman seusianya. Ia berani memikul beban berat. Seperti membuat temannya yang nakal menjadi bersikap baik.

Lebih dari itu. Hal yang lebih serius dimulai ketika paman Unus membawanya masuk ke hutan. Lebih dalam dari yang pernah ia datangi. 


My Story

Dipinjemin sama Bd. Vivi. Tukeran buku. Aku pinjem punya dia dan dia pinjem punyaku. Udah lama pinjemnya, tapi baru kelar >.<


Pin

Temanya sederhana. Tapi menurutku agak berat. Penuturan ringan. Tapi entah deh ada yang bikin aku perlu mikir.

Kesederhanaan mereka...

Ah jadi ingat saat tab dan hape mondok di kantor selama dua hari. Udah bikin mati gaya....


Gimana desa mereka ya? Listrikpun tak ada...

Bagian saat Amel bersama paman Unus masuk ke hutan, mulai menegangkan. Ketika mereka melihat sebuah pohon (ajaib) kopi. Besar dan buahnya lebat.

Amel membuat sebuah keputusan untuk membuat perubahan. Meski kemungkinan terwujudnya nyaris tidak mungkin terwujud, Amel tetap berusaha.

Amel patut dijadikan contoh. Ia begitu kuat....

Ada bagian yang bikin menangis. Sungguh....

Endingnya sesuatu deh. Gak diduga. Bikin ngomong "Loh, kok gini?!". Tapi diobati di bagian Epilog. Meski masih bilang "Ohhhh..."

Aku rekomendasikan buku ini buat anak anak yang nakal. Biar jadi anak baik dan sayang keluarga :)


Postcard



Reading Challenge
-Indiva Readers Challenge-New Authors Reading Challenge-What's In a Name Reading Challenge-


0 comments:

Post a Comment