"Aku memperlakukan setiap menit yang kuhabiskan bersama keluarga dan teman-teman bagaikan waktu-waktu yang sangat berharga. Aku memperhatikan wajah dan suara mereka dengan cermat, supaya tidak melupakan semua itu. Aku tahu aku takkan pernah melihat mereka lagi dan hal itu membuat hatiku pedih, tapi hal ini memang harus terjadi. Tidak ada jalan kembali." -Darren Shan-

Cirque Du Freak-Buku pertama Darren Shan Saga oleh Darren Shan

Sunday, 30 June 2013

This letter is for you, Sir....

Dear Mr. Tom Marvolo Riddle


Aku harap aku bisa mengenalmu. Banyak yang ingin aku ceritakan. Tapi aku yakin kau bukan penyihir yang punya kesibukan luar biasa seperti aku. Maksudku kita sama-sama sibuk. Kau sibuk mengumpulkan sebanyak mungkin sekutu. Aku sibuk memcari keberanian karena aku tidak ingin bergabung denganmu. Aku akan belajar berani agar aku bisa melawan siapapun yang berharap aku menjadi seorang Pelahap Maut. Sekalipun sepupuku sendiri yang aku yakin sudah punya tato di lengannya.

Bagaimana kabarmu? Aku yakin jika aku bertemu denganmu kau akan langsung berteriak 'Avada Kedavra' sambil mengacungkan tongkat tepat ke dadaku. Aku minta maaf, aku hanya tidak tahu harus berbasa basi seperti apa di surat ini. Dan kumohon, jangan bunuh burung hantu yang mengirim surat ini. Aku meminjam dari temanku.

Yah, mungkin kau lebih suka membunuh burung hantu sebagai pelampiasan. Tapi sesungguhnya aku lebih suka kau membunuh bibi Bella. Kenapa aku lebih suka kau membunuhnya, karena dia sudah gila. Aku tahu dia masih bisa mengingat banyak mantra dan bisa merapalnya dengan benar, tapi bukan itu yang kumaksudkan.


Aku tahu kau telah kehilangan keluargamu. Setidaknya kau tinggal di panti asuhan tanpa orangtua kandung. Dari mana aku mengetahui ini, biar aku saja yang tahu. Demi keamanan orang-orang disekitarku. Keadaan di sana pasti tidak menyenangkan. Kau seperti tersisih. Berada di antara mugle-mugle sementara kau berpikir kau berbeda. Istimewa. Seorang penyihir.

Tapi kau lupa akan satu hal.

Lalu kau tiba di Hogwarts. Menjadi seorang brilian di asrama Slytherin. Kita punya kesamaan. Akan kuceritakan nanti. Yang pasti kulihat maksudku yang kumengerti, kau bukan hanya seorang remaja tampan. Aku yakin jika kau muncul dihadapanku--hanya beberapa tahun lebih tua--mungkin aku akan berusaha untuk melakukan hal yang telah ibumu lakukan pada ayahmu ketimbang mencintai seorang penyihir berdarah pengkhianat. Tapi lihat, maksudku ingat, kau tidak tampak seperti remaja yang haus akan pelajaran, tapi akan ketamakan. Aku merasakan bagaimana kau berusaha benar-benar menggunakan kekuatanmu untuk melakukan semua yang kau inginkan. Sekalipun hal itu akan menyakiti orang lain.

Tapi kau lupa akan satu hal.

Lalu kau lulus. Melamar pekerjaan sebagai guru. Di sini kita juga punya kesamaan. Kau melamar untuk pelajaran yang aku yakin menjadi favoritmu. Tapi tujuanmu bukan hanya membagi ilmu. Seperti aku yang punya tujuan lain. Dan ini juga akan kujelaskan nanti.

Tapi kau lupa akan satu hal.

Lalu setelah perjalanan panjang, kau bisa dikatakan hampir berhasil. Berhasil membunuh Potter yang seharusnya tidak menjadi ancaman. Kita di sini juga memiliki kesamaan tapi tentu saja kita berbeda. Tapi lihat? Kau hanya hampir berhasil. Tapi tidak kan?

Karena kau sekali lagi lupa akan satu hal.

Kau memang istimewa. Setiap orang istimewa. Karena setiap orang berbeda. Tapi kenapa kau tidak bisa memberi toleransi terhadap hal itu. Kau bahkan tidak bangga akan darahmu sendiri. Hal ini juga terjadi padaku. Kau bilang pada semua orang--dan dari mana aku tahu, ini juga rahasiaku--kalau kau seorang darah murni. Tentu saja tidak ada yang heran karena kau Slytherin. Tapi memiliki darah murni bukanlah segalanya. Hanya karena seseorang berdarah murni bukan berarti mereka harus dipuja dan bisa menindas mereka yang berdarah campuran atau muggle. Ini soal apa yang ada di dalam hati kita, bukan apa yang mengalir di dalam diri kita. Kita tetap manusia. Meski ada penyihir dan ada yang bukan. Yang membedakan kita hanyalah hati.

Apa gunanya keturunan darah murni jika kau memiliki hati yang busuk?

Dan hanya karena mereka keturunan muggle bukan berarti mereka tidak mungkin berhati mulia.

Hanya karena mereka menyakitimu bukan berarti kau berhak menyakiti mereka. Kalau itu terjadi, kau sama buruknya dengan mereka. Balas dendam bukanlah jawaban. Kau tidak cukup bahagia menjalani hidupmu, tapi itu bukan alasan kau boleh merenggut kebahagiaan orang lain agar kau bahagia.

Kau tahu? Tentu saja tidak. Aku nyaris saja masuk Slytherin saat topi seleksi ada di atas kepalaku. Di sinilah kesamaan kita. Sebuah obsesi, keinginan luar biasa untuk mencapai sesuatu. Oke, aku memang orangnya agak menyebalkan, memang menyebalkan maksudku. Aku suka memerintah. Punya orang-orang yang akan mengikuti apa mauku. Aku juga rela kehilangan mereka agar aku bisa tetap hidup. Untungnya aku sadar. Aku harus mengontrol hal itu. Aku berusaha menolak segala sesuatu yang berbau pemimpin. Karena aku tidak ingin menjadi orang yang rela kehilangan orang lain agar aku tetap hidup, aku berusaha untuk rela menjadi orang yang hilang asalkan yang lain bertahan hidup. Dan hal inilah yang membuatku masuk asrama lain. Meski orang-orang mempertanyakan apa yang aku punya di kepalaku. Aku bahkan tidak lebih baik dari Luna Lovegood.

Dan apa yang kau lakukan?

Berusaha mencari apapun yang bisa kau temukan. Berusaha mempelajari apapun yang kau baca. Bukan karena haus ilmu kurasa. Karena tak ada seorang brilian yang bersedia menjadi pelayan toko.

Yah, tak dapat dipungkiri kau berharap menjadi guru. Aku pun akan dengan senang hati menerima pekerjaan itu kalau saja Dumbledore mengizinkanku. Aku punya utang pada sebuah pelajaran. Dan aku memang tak mungkin menebusnya--kembali ujian dan lulus--tapi aku bisa kembali sebagai guru. Tapi tidak. Jalanku memang di luar sana. Tapi aku tidak seperti dirimu. Jika kau punya kesempatan posisi yang bagus di Kementrian, untuk apa mencari posisi sebagai pelayan?

Aku tidak habis pikir.

Lalu kau mengilang dan kembali dan menghilang dan kembali. Mengutuk pelajaran Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam hanya karena kau tidak bisa meraih posisi itu. Mengumpulkan orang-orang untuk menjadi Pelahap Maut. Orang-orang yang rela mati untukmu. Mereka sebenarnya tidak rela. Mereka punya tujuan sendiri. Sama seperti tujuanmu mengumpulkan mereka.

Apa yang kau tawari? Jabatan bagus jika kau menjadi mentri? Kucuran Galleon seumur hidup? Aku heran apa yang kau tawari. Hanya menjadi abdi setia karena mereka percaya kau akan berjaya? Itu sebabnya bibi Bella menjadi gila. Seingatku dia bahkan tidak peduli lagi pada suaminya. Apa dia berharap dia bisa menjadi istrimu? Ah, kurasa tidak. Dia hanya percaya. Aku percaya kalau dia percaya padamu yang percaya pada ambisimu. Tapi yang lain?

Mereka ketakutan. Mereka hanya mencari perlindungan. Siapa yang tidak mau berlindung di balik jubah Kau-Tahu-Siapa? Hanya mereka yang bisa berlindung di balik jubah Dumbledore. Mereka hanya takut kau membunuh mereka. Dan mereka bersikap seorang rela mati demi dirimu.

Dan lihat kenapa kau tidak bisa membunuh Potter?

Alasan yang sama Mr. Riddle. Mereka rela mati demi Potter karena mereka memang mencintainya. Tidak berpura-pura. Inilah yang membuatmu kalah.

Kau tidak punya cinta. Itu yang kau lupakan.

Apa hidup di panti asuhan membuat hatimu beku? Apa semua perhatian guru karena kehebatanmu tidak cukup? Apa bekerja membuat keonaran lebih menyenangkan dibanding melawannya?

Kau tak akan pernah menang.

Kau bahkan tidak mempunyai teman.

Kau akan kalah.

Karena kami akan melakukan apapun untuk membantu Potter. Kami tidak berlindung di balik jubah Sang Terpilih. Tapi kami membantunya untuk menghabisimu.

Aku akan melakukan apapun untuk membantunya. Aku sudah mendapat izin untuk bergabung dengan Orde Phoenix meski usiaku masih jauh di bawah anggota yang lain. Aku juga akan menjalani tes dan pelajaran untuk pekerjaan yang aku incar.

Bukan sebagai pembuat kejahatan, tapi sebagai pelawan kejahatan.

Aku akan senang jika bisa menghabisimu. Tentu sebelum kau menghabisiku lebih dulu.

Kau tak bisa membunuhku di tempat tidurku yang nyaman di Hogwarts. Kau juga tidak bisa menyapaku saat aku turun dari Hogwarts Express. Tapi kau bisa menemukanku.

Kuharap kau datang untuk belajar tentang cinta. Bukan menghancurkan mimpiku untuk mengalahkanmu. Aku tidak bisa membunuhmu. Tapi kita bisa membunuh kebencian di dalam dirimu.

Tapi maaf saja ya Sir. Aku bisa mengajarimu tentang cinta. Tapi jangan harap aku mencintaimu. Aku mencintai Fred Weasley.



R. Maryana



note : cerita ini diikutkan dalam Hotter Potter June Meme dengan Blog Luna sebagai sponsor. Blognya sudah kufollow dengan email amz_ochi_gnz@yahoo.co.id 

2 comments:

  1. Huah...suratnya panjang & agak seram membacanya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Panjang ya? Hihi, kebiasaan lama :p

      Agak seram? Ini kan buat Dia-Yang-Namanya-Tak-Boleh-Disebut .-.

      Delete