"Aku memperlakukan setiap menit yang kuhabiskan bersama keluarga dan teman-teman bagaikan waktu-waktu yang sangat berharga. Aku memperhatikan wajah dan suara mereka dengan cermat, supaya tidak melupakan semua itu. Aku tahu aku takkan pernah melihat mereka lagi dan hal itu membuat hatiku pedih, tapi hal ini memang harus terjadi. Tidak ada jalan kembali." -Darren Shan-

Cirque Du Freak-Buku pertama Darren Shan Saga oleh Darren Shan

Wednesday, 3 July 2013

Wishful Wednesday [28]

Aku memajang artikel itu. Sebuat berita kecil tentang sebuah Institut yang ingin kutuju. Dulu artikel itu menyemangatiku. Kutempel di atas jadwal film--yang juga potongan koran--yang beberapa gambarnya telah kuganti. Salah satunya kuberi judul salah satu ceritaku. Yah, hanya berandai-andai seandainya suatu hari nanti aku bisa menonton sebuah film di mana di dalamnya tertulis 'Based on the story by R. Maryana'.

Aku tak ingat berapa lama artikel koran itu kupajang. Yang pasti aku sudah memajang kertas koran itu saat aku masih bersekolah. Dan aku sudah tiga tahun meninggalkan sekolah. Sudah bertahun-tahun aku memajang artikel itu tanpa pernah menurunkannya.

Aku tahu--sejak aku lulus--aku tidak akan bisa kuliah di sana. Tentu saja aku tidak bisa menjelaskan alasannya. Yang pasti jika aku memilih, aku ingin kuliah di sana. Tak peduli ke manapun teman-temanku ingin melanjutkan. Dan kurasa teman-teman sekelasku--ditahun terakhirku di sekolah dan kami sudah bersama sejak tiga tahun--tidak ada yang berniat ke sana. Aku rasa hanya aku yang berani berucap aku ingin melanjutkan ke sana.

Dua tahun lalu, aku menangis. Kesempatanku untuk kuliah di sana sudah hilang. Seperti halnya Snape yang mencintai Lily. Keinginanku untuk menimba ilmu di sana tidak pudar meski aku tahu aku tidak bisa masuk ke sana sampai kapanpun dan sebabnya adalah sebab yang mutlak.

Di samping artikel itu ada beberapa gambar yang merupakan hasil print yang aku susun vertikal.


Di paling atas ada foto J. K. Rowling.

Di bawahnya ada foto Darren Shan.

Di bawahnya ada foto Sinta Yudisia.

Seharusnya di bawahnya ada foto satu orang lagi. Tapi mama mengenalnya dan aku tidak memajangnya.

Di bawahnya ada foto dua orang temanku. Fitri dan Lira.

Di bawahnya ada lagi dua foto temanku. Dian dan Fury.

Dan di bawahnya ada satu foto seseorang yang sudah tidak ada. Aku selalu berharap kalau dia kakekku. Seumur-umur aku belum pernah mengenal kakekku, bertemu dengannya saja tidak pernah. Jadi jangan anggap ceritaku di atas. Karena aku hadir di sini untuk menceritakan wishku di hari rabu.


Bocah berusia lima tahun itu terus menggigil di ranjang tidurnya. Tapi bukan karena demam. Ia melihat jarum magnet, yang gerakannya seolah-olah dipengaruhi oleh kekuatan tersembunyi. Jarum itu membangkitkan rasa ingin tahu yang memotivasinya kelak, seumur hidupnya. Ayahnya memberi tahu bahwa benda menakjubkan itu bernama kompas …

Belasan bahkan puluhan tahun kemudian, Albert Einstein—lelaki kecil tadi—terus mengingat pertemuan pertamanya dengan kompas. Ketakjubannya akan kesetiaan jarum pada medan yang tak terlihat.

Kecerdasan Einstein memang melampaui zamannya. Masa muda Einstein penuh pemberontakan terhadap aturan. Ia bahkan menjadi panutan suci bagi anak-anak sekolah yang bermasalah di mana saja.

Tak hanya itu, di puncak karirnya, penolakan keras Einstein terhadap penggunaan senjata membuatnya begitu dicintai sekaligus dibenci. Ia bahkan menjuluki negara-negara pengibar perang sebagai “orang kaya yang berusaha mengusir kebosanan”.

Dalam biografi ini, Walter Isaacson tak hanya berhasil membedah pemikiran Einstein, tetapi juga menampilkan sisi “manusia” dari ikon jenius ini sebagai bagian dari masyarakat semesta.


  
Nah, nah. 

Foto kakek Albert yang ada di bawah foto teman-temanku. Di bawah foto kakek Albert ada fotoku. Hanya berharap suatu hari nanti aku bisa menemukan kemiripanku dengannya.

*lalu Ryana sodorin soal tentang relativitas*

Kenapa aku mengagumi orang yang bernama Albert Einstein ini?

Karena bukankah "Kepintaran tak terhingga adalah harta manusia yang paling berharga"? Andai saja ada buku tentang Rowena Ravenclaw yang inisial namanya sama dengan inisial nama depanku--membuatku sedikit yakin kalau aku juga cucunya #plak--aku akan memasukannya ke dalam wishku.

Jadi, ada yang bisa membujuk tante Jo untuk menulis lebih banyak tentang Rowena Ravenclaw dan diademnya yang hilang?


Sekarang, yuk ikutan ber Wishful Wednesday!
  1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

7 comments:

  1. Aku juga pengen baca buku ini. Harganya lumayan siih.
    Semoga terkabul ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan lumayan lagi. Ini mahal T_T
      di showroom mizan kena diskon buatku masih mahal. Di bazarnya yang diskonnya lebih gede lagi juga jatohnya masih mahal.....
      *ngarep ada yang mau beliin*

      Delete
  2. Buku ini tebal nggak sih? Kalo tebal aku malas batja *emang siapa yang nawrin but minjemin :))

    Semoga terkabul.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masih lebih tebel Harry Potter and the Order of the Phoenix kok. Tapi ukuran bukunya sih lebih gede. Kalau gak salah seukuran The Casual Vacancy lah :)))

      Delete
  3. buku seksih, hi3....
    Semoga dapat ya kak

    ReplyDelete
    Replies
    1. buku seksih? ah, tambah pengen.....
      amin, makasih mas Tezar

      Delete
  4. katanya buku ini kereeen :D btw institut apa sih iniii *kepo* hihihi semoga terkabul ya ry!

    ReplyDelete